oki's posts with tag: tanah air
Republika, Kamis, 31 Januari 2008
Kamis siang (24/1), Ardi (8 tahun) terlihat meringis menahan perih di sudut dapur rumahnya, di RT 01/RW 5, Desa Moro, Kec Bonang, Kab Demak, Jawa Tengah. Dia menahan lapar. Sejak berangkat sekolah sampai pulang sekolah, belum sebutir nasi pun mengisi lambungnya. Sambil mengelus perutnya yang keroncongan, murid kelas dua SD Negeri Moro ini memelas kepada ibunya, Supiyah (41), yang sedang sibuk mencuci nasi aking: ''Piye Mak. Isih suwe, ra? Wetengku wis pereh ki.
(Bagaimana Bu, masih lama tidak? Perutku sudah perih nih).'' Karena nasi aking atau kerak nasi yang dikeringkan itu tak bisa cepat terhidang untuk mengenyangkannya, Supiyah hanya bisa meminta anaknya bersabar. ''Sabar yo Le. Ditinggal dolanan wae kono (Sabar ya Nak. Ditinggal main dulu [sambil menunggu nasinya masak]),'' katanya.
Nasi aking atau nasi daur ulang yang sedang dicuci Supiyah, masih harus dikukus. Waktu yang dibutuhkan sekitar tiga perempat jam. Itu baru nasinya. Belum menyiapkan lauk ikan asin. Tinggallah Ardi, anak ketiganya, yang untuk makan nasi aking pun harus ekstra sabar.
Nasi aking menjadi menu warga Dese Moro sejak laut utara Jawa dilanda gelombang pasang, awal Januari 2008. Sudah lebih dari dua pekan, para nelayan tak berani lagi melaut, termasuk suami Supiyah, Ahmadi (40). Karena tak lagi turun ke laut, pemasukan pun tak ada lagi.
Keadaan kian mengimpit karena harga kebutuhan pokok pun melambung. Baik itu beras, terigu, minyak goreng, maupun tahu-tempe. Sudah begitu, minyak tanah yang biasa dijadikan campuran bahan bakar kapal para nelayan, juga ikut-ikutan menghilang dan harganya meroket.
Mau melaut minyak tanah mahal. Tak melaut tak dapat uang untuk menyambung hidup. Seperti buah simalakama. Alhasil, mereka hanya bisa memperlambat keterpurukan dengan mengonsumsi nasi aking. ''Terpaksa [makan nasi aking], karena kami paceklik sudah dua minggu lebih,'' kata Supiyah kepada Republika, pekan lalu.
Harus dihemat Meski menu makannya sudah menjadi nasi aking, mereka tetap harus membatasi konsumsinya. Supiyah dan keluarga hanya bisa makan dua kali sehari, siang dan malam. Tak ada lagi sarapan --bahkan dengan nasi aking sekalipun. Uang jajan untuk Ardi pun terpaksa dihapus dari daftar. Soal alasan menghemat nasi aking itu, Supiyah berujar, ''Siapa yang tahu Mas, kalau persoalannya (paceklik --Red) berlangsung panjang dan tak memberi kesempatan untuk menghindar.''
Di wilayah RT 1/RW 5, sedikitnya ada 80 kepala keluarga (KK) yang terpaksa bermenu nasi aking. Seorang tetangga Supiyah, Mauzah (39), bahkan bernasib lebih mengenaskan. Untuk mendapatkan nasi aking, dia terpaksa meminta kepada tetangganya, karena persediaannya habis. Mauzah beruntung karena tetangga-tetangganya mau mengulurkan bantuan. ''Sesama nelayan masih memiliki sikap sosial yang tinggi. Sehingga, gampang mengulurkan bantuan,'' katanya, bersyukur.
Karena berbarengan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, dampak paceklik tahun ini dinilai warga Moro sebagai yang paling parah dibanding paceklik yang pernah terjadi sebelumnya. ''Bisa makan nasi aking saja sudah sangat beruntung,'' kata Mauzah.
Faizin (50), salah seorang nelayan di Moro mengatakan karena gelombang tinggi dan mahalnya harga bahan bakar, para nelayan terpaksa mencari ikan di pinggir laut. Tentu saja hasilnya tak maksimal. Dan bukan hanya asap dapur yang tak mengepul, cicilan utang pun berhenti dibayar.
Agar tak terus ditagih, sebagian nelayan yang memiliki utang terpaksa menjual atau menggadaikan perabot rumah tangganya. Misalnya televisi, radio-tape, dan barang elektronik lainnya. ''Saat ini nasib nelayan di Moro pada umumnya sangat memprihatinkan,'' kata Faizin.
Soal berkurangnya minyak tanah, Abdul Ghani (58), salah seorang pemilik pangkalan minyak tanah di Moro mengatakan jatah untuk pangkalannya sudah dikurangi dua pekan terakhir. Dia tidak menjelaskan alasannya. Jika biasanya dipasok tiga kali per pekan, kini hanya sekali per pekan.
Agar dapat memenuhi kebutuhan pelanggannya, Abdul Ghani terpaksa mencari pasokan minyak tanah dari Semarang. Karena ada 'tambahan jasa dan transportasi', Abdul Ghani mengaku terpaksa menaikkan harga minyak tanah dari Rp 2.800 per liter menjadi Rp 3.300 per liter.
Sekretaris Desa Moro, Maskani (40), mengatakan dari 1.168 kepala keluarga (KK) di Moro, 250 KK (21,4 persen) di antaranya mengonsumsi nasi aking. Jumlah jiwa yang mendiami Moro, kata Maskani, saat ini 6.174 orang. Sebanyak 1.499 jiwa di antaranya adalah nelayan dan keluarganya.
''Wilayah paceklik yang paling parah adalah RW 1. Setidaknya ada 80 KK warganya yang mengalami dampaknya. Sisanya tersebar di empat RW lainnya,'' kata Maskani kepada Republika, beberapa waktu lalu. Maskani mengatakan saat ini warga yang mengalami paceklik sangat membutuhkan bantuan pangan. Aparat Desa Moro telah meminta bantuan kepada pihak kecamatan. Dia berharap permohonan itu bisa segera diteruskan ke Pemkab Demak.
Jika sampai pekan ini tak ada bantuan, Maskani mengatakan, ''Bukan tidak mungkin akan menimbulkan bencana kemanusiaan, seperti kelaparan.''
(owo )
'Indonesia kalah 1-2 dari Arab Saudi'. Terus terang, sejujurnya saya berharap sekali, kali ini PSSI 'sedikit berjaya' di Piala Asia. Setidaknya lolos ke delapan besar. Moga-moga ada suatu prestasi yang membuat nama baik Indonesia kembali harum di dunia internasional. Setelah insiden penginterogasian Gubernur ibukota DKI di Aussie, pelarangan terbang bagi maskapai Indonesia oleh EU, hingga pengibaran bendera RMS langsung di depan Presiden Republik Indonesia; rasanya ada yang tergores di plakat nasionalisme kita. Harga diri dan eksistensi kita sebagai bangsa jatuh, kali ini bukan cuma jatuh, tapi kebanting. Akibatnya, bangsa ini perlu rehat, butuh penyegar; mungkin berupa prestasi olahraga, yang akan membuat wajah kita kembali tegak dihadapan bangsa lain. Selain sebagai kebanggaan bangsa, dengan olahraga semisal sepakbola, umumnya, rakyat kita sedikit terhibur, dan melupakan kesulitan hidup sehari-hari. Krisis ekonomi yang berkepanjangan membuat bangsa kita kebal, “ini krisis bukan ya, kok lama banget”. Belum lagi daya beli yang belum membaik; harga minyak goreng yang melambung, hingga susu yang tak terbeli. Memang, bangsa ini bangsa yang sabar, nrimo dan biasa hidup prihatin. Tapi sebagai manusia biasa, kita masih butuh hiburan yang halal. Selama ini, bentuk hiburan di tanah air, mungkin hanya menonton sinetron atau jalan-jalan ke mall. Kemenangan Tim merah-putih saat melawan Bahrain itu, berfungsi persis seperti sinetron; penghibur rakyat, saat perut kosong dan saat daya beli rendah. Harapan ini semakin meningkat, mengingat prestasi olahraga Indonesia yang makin hari makin tidak terdengar. Dulu, jamannya saya kecil, menjadi juara umum di SEA GAMES itu biasa, di All England; partai All Indonesian Final pun lumrah. Tapi sekarang? Jangan pernah bicarakan rangking Indonesia di SEA GAMES, malu kita, ternyata di ASEAN pun kita hanya menang jumlah penduduk. Tidak lebih. ***** Harapan lain, tentu banyak. Prestasi olahraga, bukan antibiotik, bukan obat penyembuh bagi bangsa kita. Tapi lebih sebagai penghilang rasa rakit. Obat nya masih perlu sama-sama kita pikirkan, agar kita tidak cuma berdebat tentang angka kemiskinan (survei BPS tahun 2007 tentang angka kemiskinan yang cuma 37 juta jiwa, banyak diragukan media massa, bagaimana mungkin jumlah orang miskin turun, disaat semua harga naik?). Kita perlu berbuat, perlu bekerja, agar rakyat miskin berkurang, setidaknya di mulai dari diri sendiri. Kita juga perlu berbuat, perlu berusaha, agar suatu saat bendera merah putih kembali berkibar (di event internasional). Untuk Tim Merah-Putih: 'Ini Kandang Kita, Bung' "Di luar negeri, hanya 2 event dimana lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan, ..saat Presiden RI datang,..dan saat Tim Indonesia menang pertandingan" [Wapres Jusuf Kalla, rekaman liputan6.com, menjelang Indonesia-Bahrain 2007] ***** 16072007, Jejeran sungai Aura, Finlandia Selatan Sumber photo: http://www.pssi-football.com
Negeriku, tidak terasa, bertahun sudah aku meninggalkanmu.
Ingatan akan keindahan, cita rasa dan semerbak kesegaran alammu; membuatku semakin rindu.
Tiada yang mampu menggantikan tempatmu dihatiku, meski beberapa negeri sempat kusinggahi.
Akibatnya, pagi-siang aku merindukanmu.
Kubaca surat kabar dan majalah online teratur, disela sibukku.
Kucari tahu, apa kabarmu.
Hari-hari ini, bayangmu kembali hadir.
Gambarmu yang lusuh di sudut hatiku, kini begitu hidup di depan mataku.
Beberapa bulan terakhir. Pekan-pekan ini puncaknya.
Beritamu hadir ke seantero penjuru.
Semua media barat, bergiliran menayangkan gempa, longsor, angin kencang yang mengubah wajahmu.
Setelah sebelumnya, banjir dan tsunami datang, mengagetkan dan menggetarkan hati.
Negeriku,
Kini, semua bangsa di dunia terperangah akan keamanan transportasimu.
Kapal di laut karam, pesawat di udara jatuh.
Bukan sekali, tapi berkali-kali.
Berulang-ulang ku baca buku dan artikel yang membicarakanmu.
Beberapa hari ini, di ruang kopi kantorku, sebuah majalah ilmiah bergengsi memampang satu dari wajahmu (lumpur yang menelan desa dan kampung), katanya ‘bencana yang tidak alami’ [Nature, 2007].
Bahkan warga sedunia kini tahu, betapa tangan-tangan manusia lah yang ikut andil, dalam semua tangis dan kesedihan itu.
Bahwa kemaksiatan dan kemusyrikan yang menyebar di segala penjuru mu, itupun kami tahu. Tapi, untuk saling mengingatkan pun kami belum mampu.
Padahal, itulah yang mengundang bencana.
“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu” [Al Anfaal: 25].
Bahwa banyak manusia-mu yang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin dan penguasa pun semua tahu. Itulah satu-satu nya cara (yang sering dipahami) untuk menjadi manusia mulia, menjadi penguasa, untuk kemudian menjadi kaya, atau sebaliknya. Itulah mind-set yang berkembang. Meskipun pendapatan suatu daerah kecil, tiap daerah dan pelosok mu kini disibukkan oleh pemilihan pejabat daerah. Sementara beras dan harga kebutuhan pokok, iya baru yang pokok, semakin menjulang naik. Yang miskin tambah miskin. Di Garut, di Serang, bangsaku sudah makan aking..beras mahal, sudah diatas tujuh ribu..di Brebes, aking sudah terlalu mewah..untungnya jagung masih lebih murah...rakyatmu disana makan jagung.. Baru-baru ini, saat mengunjungi KBRI Denhaag, mengurus paspor bayi kami, ku sandingkan anakku pada peta besar Indonesia Raya yang terpampang di KBRI, sebetulnya aku mau mendongeng tentang mu, tentang Indonesia yang kupelajari buku-buku PMP..rakjat yang gemah ripah loh jinawi. Hanya, kemudian tertunduk aku membisu, “harus dimulai dari mana dimulai ceritaku? Dari gempa? banjir? pesawat jatuh? flu burung yang mewabah?, gejala marasmus (gizi buruk akut), atau ancaman leptospirosis (penyakit kencing tikus)?"
Negeriku,
Dalam suatu tayangan BBC, kusaksikan paradoks di sebuah negeri (bekas) pertanian di Afrika, yang kaya hasil pertanian dan kaya sumber daya alam (termasuk migas). Kekayaan alam membuat pertanian ditinggalkan, sementara rakyatnya berebut menjadi pekerja di eksplorasi pertambangan. Tapi bila dihitung-hitung, tidak lebih dari 5% rakyat yang menikmati kemakmuran dari hasil alam itu. Rakyat awam masih sangat miskin. Yang beruntung hanya perushn asng dan pjbt negara. Di negeri Afrika itu, cuma ada dua komponen, penguasa (yang semakin kaya) dan mdl asig (yang semakin berlipat). Rakyat dimana? Entahlah, toh hari-hari gini gituloh, siapa sih yang mau repot memikirkan rakyat.
Negeriku, tapi itu kasus di Afrika lho, aku berharap itu tidak terjadi padamu.
Negeriku, setelah bencana yang silih berganti, gempa, banjir, gempa lagi, gempa lagi dan angin kencang itu, dalam sedih, ku coba mencari tahu, ada apa denganmu? Kalau diputar lagu Ebiet G Ade untuk menyimak bencana yang menimpamu, mungkin semua album Ebiet untuk menceritakannya juga belum cukup. Ku coba membaca lagi buku “Jejak bangsa-bangsa terdahulu”. Berita tentang negeri-negeri yang telah dimusnahkan bencana [At-Taubah (9): 70]. Semoga namamu tidak dikategorikan sebagai negeri yang dimusnahkan.
Negeriku, aku mencintaimu.
Kuharap para pemimpin kami juga mencintaimu. Semoga pemimpin kami mencintai rakyatmu, yang kini kehilangan sanak famili, kehilangan mata pencaharian mereka, dan terlunta-lunta di pengungsian. Negeriku, kabarkan aku, bagaimanapun keadaanmu, meski wajah mu hadir di koran online dalam bentuk 'antrian panjang warga yang menunggu beras murah', sampaikan juga gambar suram itu padaku. Untuk mengobati rinduku.
*****
"Rabbanaghfirlana dzunuubana wa israfana fi amrina wa tsabbit aqdamanaa..."
*****
Sumber photo: ANTARA, seorang bapak dan reruntuhan seusai gempa.

BUSTANUL ARIFIN
Bulan Maret 2007, pemerintah melalui Badan Pusat Statistik akan melaksanakan Survei Sosial Ekonomi Nasional atau Susenas. Kegiatan berkala tersebut untuk memotret kondisi sosial-ekonomi masyarakat, yang akan menjawab juga posisi terakhir kemiskinan di Indonesia.
Angka resmi jumlah masyarakat miskin saat ini adalah 39,1 juta orang (17,75 persen), dengan kisaran konsumsi kalori 2.100 kilokalori (kkal) atau garis kemiskinan sekitar Rp 152.847 per kapita per bulan. Pemerintah tampak sangat ketakutan terhadap bayangan angka kemiskinan yang akan terjadi saat pelaksanaan Susenas karena terlalu banyak persoalan krusial belum ditanggulangi. Ditambah kesimpangsiuran argumen tentang peran harga beras terhadap angka kemiskinan.
Studi kemiskinan Bank Dunia, "Making the New Indonesia Work for the Poor" rupanya sangat memengaruhi pola pikir para perumus kebijakan di negeri ini. Menurut Bank Dunia, larangan impor beras sejak tahun 2004 telah menyebabkan kenaikan harga beras 33 persen pada periode Februari 2005-Maret 2006, dan telah mengakibatkan tambahan 3,1 juta orang miskin baru.
Pemerintah mungkin lupa terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di atas 100 persen pada Oktober 2005 yang telah membuat biaya transportasi dan biaya produksi beras juga ikut naik. Benar, sebagian besar petani Indonesia adalah pengonsumsi neto (net consumer) beras. Hal ini juga berimplikasi, petani konsumen beras jualah yang merupakan kelompok petani miskin.
Apabila kelompok petani miskin nanti terpilih menjadi sampel dalam Susenas 2006, pemerintah khawatir angka kemiskinan 2007 akan lebih buruk. Pemerintah berupaya keras menurunkan harga beras pada Maret 2007 agar mendekati harga pada Maret 2006. Salah satunya, keputusan kontroversial impor beras 500.000 ton lagi. Pemerintah seakan tak peduli apakah keputusan impor beras itu mengganggu harga jual gabah petani nanti pada saat panen raya Maret atau April 2007.
Pemerintah tidak juga mempertimbangkan apakah keputusan impor beras tanggal 21 Desember 2006 telah terpenuhi semua 500.000 ton ataukah masih akan ada saat panen raya.
Sepanjang 2006, andil harga beras terhadap laju inflasi nasional sebenarnya tidak terlalu besar. Pada Januari dan Februari tahun lalu, andil harga beras memang sangat besar, masing-masing 44,1 dan 67,2 persen (dihitung dari 0,60 persen pangsa beras terhadap 1,36 persen laju inflasi Januari; serta dari 0,39 persen terhadap 0,58 persen inflasi Februari). Andil harga beras terhadap inflasi juga tinggi (20,6 dan 41,3 persen) pada bulan Desember 2006 karena bulan-bulan itu jumlah pasokan beras memang di bawah tingkat konsumsi. Akibatnya, harga terangkat dan sempat mencapai Rp 4.800 per kilogram pada akhir tahun lalu, yang tentu saja menaikkan angka inflasi nasional.
Di luar bulan-bulan kritis seperti itu, andil harga beras terhadap inflasi tidak sampai 16 persen, bahkan justru berkorelasi negatif dengan laju inflasi pada musim panen raya pada bulan Maret-April dan September-Oktober 2006 karena harga beras cenderung menurun.
Akibat berikutnya, harga jual gabah petani anjlok drastis karena sifat transmisi harga beras cenderung searah. Penurunan harga beras konsumen akan cepat sekali memengaruhi harga jual gabah petani, sementara kenaikan harga beras tidak dapat dinikmati petani.
Menurut Sensus Pertanian 2003, jumlah petani gurem atau petani miskin dengan luas lahan lebih kecil dari 0,5 hektar adalah 13,2 juta rumah tangga, atau naik 2,17 persen dibandingkan 10,6 juta rumah tangga pada tahun 1993. Karena sebagian besar rumah tangga petani di Indonesia (73,4 persen) adalah petani padi/palawija, maka sebagian dari petani gurem tersebut adalah petani padi/palawija. Dalam konteks ini, kemiskinan yang diderita petani Indonesia adalah kemiskinan struktural, yang tentu saja tidak akan dipecahkan hanya dengan langkah-langkah pemberian bantuan langsung tunai (BLT) sebagaimana upaya pemerintah selama ini.
Demikian pula, karakter kemiskinan di Indonesia secara umum memang sangat sensitif terhadap perubahan kondisi eksternal yang memengaruhi tingkat pendapatannya. Dengan garis kemiskinan yang dibuat berdasarkan pendekatan pengeluaran sebagaimana diadopsi dalam Susenas, akan sangat banyak kaum miskin yang "bergerombol" di sekitar garis kemiskinan. Tidak mustahil, mereka yang termasuk kategori hampir miskin (near poor) akan jatuh ke dalam kelompok miskin jika mereka tidak mampu membeli beras karena harganya yang meningkat tajam. Profesor Sajogyo pernah membagi kaum miskin menjadi tiga kelompok besar, yaitu hampir miskin, miskin, dan melarat. Maksudnya, betapa besarnya angka kemiskinan di Indonesia jika kategori hampir miskin dipertimbangkan.
Pada kesempatan lain (Arifin, 2006), dengan mengadopsi metodologi Sajogyo, penulis pernah membagi lagi kelompok miskin menjadi tiga kelas (dari bawah, yaitu (1) sangat miskin, (2) miskin tapi aktif secara ekonomi, dan (3) miskin tapi memiliki jiwa wirausaha).
Pendekatan bantuan langsung atau skema lain sebagaimana dilaksanakan oleh Departemen Sosial dan dinas-dinas sosial di daerah pasti lebih sesuai untuk kelompok sangat miskin. Peningkatan kapasitas usaha, bantuan dana bergulir dan lain-lain tentang motivasi diri agar mereka mampu menolong dirinya sendiri. Terakhir, pemberian akses ekonomi, kredit mikro, akses informasi dan akses pasar terhadap produk-produk yang dihasilkannya dapat difokuskan untuk kelompok miskin yang memiliki jiwa wirausaha.
Pemerintah memang perlu secara serius merumuskan strategi pengentasan rakyat miskin, termasuk kelompok petani. Ketakutan yang berlebihan tidak akan membantu menyelesaikan masalah, bahkan membuka masalah baru yang lebih pelik. Strategi pembaruan agraria (land reform) perlu segera diwujudkan menjadi langkah nyata di lapangan.
Sumber: Kompas, Senin, 19 Februari 2007, ANALISIS EKONOMI
Diantara berita seputar perayaan hari ultah proklamasi di tahun 2006 ini, yang paling ramai dibicarakan adalah data angka kemiskinan penduduk yang disebut presiden SBY pada pidato tahunan beliau (lihat pidato kenegaraan di presidensby.info)
Berikut berita yang dilansir Balipost, Pemerintah Akui Gunakan Data Lama, Soal Angka Kemiskinan. Pemerintah mengakui data kemiskinan yang dipaparkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam Pidato Kenegaraan, Rabu (16/8) lalu, sebagai data lama. Namun, tudingan bahwa hal itu dilakukan dengan sengaja untuk menutupi tentang keadaan kemiskinan sesungguhnya di Indonesia sama sekali tidak benar.
Menurut Surya online, Penurunan Angka Kemiskinan yang tidak tepat tersebut adalah:
Penurunan dari 23,4 persen menjadi 16 persen tidak jujur, karena tidak menyebut hasil survei terbaru yang dibuat BPS.
Lantas angka kemiskinan ini berdampak apa ya?
Berhubung saya orang awam (bukan orang ekonomi), menurut saya mah angka kemiskinan itu tidak punya dampak langsung pada rakyat.
Bukankah kriteria kemiskinan itu juga ambiguous ya? Menurut Susenas 2002, batas kemiskinan adalah Rp 114.000,- per kapita per bulan. Bukankah kriteria miskin ini pun perlu diperdebatkan? apakah bila memiliki > Rp 114.000, cukup untuk menyekolahkan anak (ancaman poor education)? Kalau kriteria kemiskinan itu adalah kualitas hidup yang menjamin setiap anak negeri untuk sekolah layak, kira-kira jumlah penduduk miskin kita berapa ya?
Semoga negeri kita membaik, amin.
 Selain gaji ke-13, Ujian Nasional dan Piala Dunia, berita yang banyak disampaikan media adalah 'pemanasan' pemilihan gubernur Jakarta. Berhubung tiap mengisi formulir di HRD atau di kantor walikota, saya selalu mencantum nama kota ini di kolom tempat tanggal lahir maka setidaknya saya punya hak untuk membicarakan Jakarta .
Konon katanya, Jakarta alias Batavia, dulu didirikan oleh di abad 17 oleh JP Coen dengan visi sebagai kota bernuansa AIR. Kalau ingin membayangkan Jakarta yang aman banjir, bayangkan saja Amsterdam dan Delft yang punya banyak kanal. Tapi seiring waktu, mungkin kanal-kanal yang menjadi barrier itu berubah menjadi trotoar dan perumahan. Akibatnya banjir sering mampir di Jakarta. Misalnya yang kita masih ingat di tahun 1996 dan 2002.
Jadi kalau boleh memilih, saya akan pilih calon gubernur yang punya visi air, mungkin sarjana pengairan kali ye. Atau setidaknya sadar bahwa salah satu tugas utamanya adalah mencegah banjir.
Masalah besar kedua adalah transportasi. Dibanding Paris, London dan Tokyo...mungkin terlalu terlambat jika harus membangun subway (kereta bawah tanah) di DKI. Yang mungkin bisa diusahakan adalah mendistribusikan penduduk Jakarta ke kota satelit di sekelilingnya. Lebih cerdas lagi, kalau ada calon gubernur yang berani memindahkan kantor ke-menteri-an ke daareh-daerah. Misalnya kementerian A ke Sleman, kementrian B ke Kutoarjo, kementrian C ke Trenggalek dst.
Masalah lainnya adalah masalah sentralisasi ekonomi dan politik. Akibatnya kemananan menjadi keniscayaan. Biasanya penduduk kita mencari aman dengan memilih purnawirawan tentara. Hampir semua gubernur ibukota memiliki latar belakang militer: Soemarno (1960-1964), Ali Sadikin (1966-1977) Tjokropranolo (1977-1982) Soeprapto (1982-1987) Wiyogo Atmodarminto (1987-1992) Surjadi Soedirdja (1992-1997), Sutiyoso (1997-sekarang).
Bola ada ditangan warga Jakarta, apakah mereka akan memilih Gubernur yang tentara, Gubernur yang selebriti seperti Arnold Schwarzenegger di California. Gubernur yang dicalonkan partai-partai. Melihat kompisisi Pemilu kemaren, Jakarta dipegang oleh PKS (kemungkinan gub/wagubnya Ustadz), PD (kemungkinan tentara), atau PDIP (banyak calon).
Anda pilih siapa?
Sumber gambar: www.jakarta.go.id 
| |