Mengejar Raudhah
Subuh berjamaah baru saja berakhir. Entah siapa yang memulai, -- dalam waktu sekejap -- terbentuk kerumunan. Jamaah sholat merangsek maju menuju raudhah, satu sisi terdepan di Masjid Nabawi. Mereka berdesak-desakan untuk mendapatkan tempat di raudhah al-syarifah. Beragam wajah berbeda-bangsa itu berharap sempat untuk merasakan nikmatnya beribadah di raudhah. Satu dari taman-taman surga. Saat itu pula pandangan saya melayang-layang mencari celah untuk bergerak maju. Lelah mencari-cari, mata saya tertumbuk pada seorang lelaki tua yang terdesak di tengah raudhah. Sosok itu tengah khusuk berdoa. Tubuh ringkihnya berbalutkan Shalwar Kamis* yang amat lusuh. Pakaian yang sangat kontras dengan gamis putih, sorban dan blazer necis disekelilingnya. Tapi, jelas ia sangat beruntung, dengan perniagaan dunia yang terbatas itu, lelaki itu sempat menikmati nikmatnya bermunajat di raudhah. Berjejer kaum pria menatap penuh perhatian di pinggir raudhah, dengan harapan mendapat giliran untuk men-duduk-i karpet kuning keemasannya.
****
Raudah menyimpan rapi kenangan perjuangan Nabi-Nya. Mengejarnya, seperti napak tilas perjuangan baginda Rasul. Di tempat barokah itu, barisan sahabat nabi di tempa. Hamparan ketaqwaan senantiasa menghiasi raudhah. Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu.
Lamunan saya terhenti. Kembali pandangan saya mencermati kemungkinan mencari celah maju. Tapi nampaknya masing-masing hamba Allah di masjid itu masih ingin meneruskan munajat mereka. Termasuk lelaki sepuh ber-shalwar kamis1 itu. Mereka tetap belum bergeming. Meski antrian panjang di pinggiran raudhah terus menatap penuh harap, setengah memaksa untuk berganti tempat.
Terlintas di benak saya, keinginan menjadi lelaki kumal itu. Ada kesantunan kepada raudhah dan kecintaan kepada rasul junjungan, yang mungkin sudah luntur dari hati banyak muslim. Ketika topeng keshalihan hanya menjadi kendaraan dalam pergaulan. Ketika ‘kepentingan’ dan “kepentingan’ tetap menjadi berhala.
Sejak saat itu, image lelaki tua, berjenggot lebat, dan ber-shalwar kamis yang lusuh melekat dalam ingatan saya. Respek terhadap cara hidup dan ketulusannya. Maklum, sebagai orang awam -– yang lemah ilmu dan kurang amal ini-- seperti saya merasa sangat minder dengannya. Kesantunan rabbani miliknya patut diperlombakan. Melihat mereka saja seperti cukup sebagai charger. Serupa lecutan bagi diri untuk menjadi lebih baik.
****
Alhamdulillah. Musim semi lalu, di tempat yang berbeda –di satu Masjid warga Maroko di Noord Brabant2- saya kembali betemu dengan sosok musafir ber-shalwar kamis.
“Assalamu’alaikum, apa kabar..?”, tegur seorang jamaah sholat ashar menyapa kedatangan saya.
Gembira. Itu pasti. Mendengar sapaan khas melayu itu saya langsung tersenyum lebar. Akhirnya ketemu dengan saudara serumpun. Lebih-lebih, Bapak itu berseragam sama. Shalwar Kamis!. Lengkap dengan impresi kesantunan yang sama. Tentu ini bukan lelaki yang saya yang jumpai di Raudhah. Tapi ciri-cirnya sama, ber-shalwar kamis dan berwajah Asia tengah.
“Saya Hasan”, begitu beliau memperkenalkan diri.
“Kami ini musafir, yang sedang ada usaha iman” (baca: berdakwah, mengajar pada kebenaran). Lega, ternyata ia bisa sedikit cakap Melayu.
Rupanya Pak Cik Hasan ini datang berombongan. Total jamaah mereka berjumlah sembilan orang. Dua diantaranya sudah sangat sepuh, diatas 70 tahun.
Lantas, detik-detik berjalan begitu khidmat. Setelah kering rohani saya seminggu ini, dipacu ambisi mengejar dunia yang ditularkan kolega sekantor, kini saatnya penyegaran. Taujih ini tentu barang langka.
“Kerisauan kami adalah kerisauan rasul”, kerisauan akan nasib ummat yang terlibas hiruk-pikuk hedonisme, paparnya menjelaskan tujuannya datang ke Eropa. Kerisauan akan ummah yang menjadi buih akibat lemahnya iman.
Lamat-lamat suara tenang beliau tenang masuk, merembes, mangairi kalbu yang suntuk.
Dua orangtua renta bershalwar khamis (yang saya temui di dua benua yang berbeda) seolah ingin membagi. Untuk mewarisi usaha Rasulullah menegakkan syiar. Semangat untuk menyebarkan salam, mengajak dan mengingatkan saudara seiman.
Kesungguhan, yang mengantarkan mereka, menuju raudhah.
******
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, katanya: Rasulullah SAW bersabda:
“Diantara rumah dan mimbarku adalah salah satu taman dari taman-taman surga dan mimbarku berada diatas telagaku"
1*Gamis khas Asia Selatan
2** provinsi di selatan Belanda
Mu. Abdur Razzaq, 17 Jamadi Ath-Thani, 1427 H.