oki's posts with tag: perbaikan diri

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag perbaikan diri
Blog EntryPenutup Semua MimpiJan 11, '08 10:54 AM
for everyone

Koffie kamer itu sesaat heboh. Seorang karyawan bagian pengiriman barang mengabarkan bahwa ada pegawai, digedung tempat saya bekerja, yang meninggal mendadak. Padahal Ia sehat, berbadan tegap, tanpa penyakit berarti. Bagi orang  Eropa Barat, ini tentu tidak biasa.

Pun, bagi kita, yang orang timur, kematian jarang jadi perbincangan. Dengan rutinitas kesibukan yang kita jalani saat ini. Tentu sulit membayangkan, jika suatu saat semua aktivitas akan di-stop oleh Yang Maha Memiliki. Tiba-tiba, habislah kesempatan terakhir kita akan mengisi buku harian kita. Buku agenda kerja juga ditutup paksa. Padahal, saat ini, halaman demi halaman di buku agenda harian diisi teratur, bahkan acara pekanan dan rencana liburan ditulis detil.

*****

Belum lama berselang, dari seorang teman, saya mendengar berita sedih tentang berpulangnya buah hati dari seorang sahabat kami. Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Semoga teman kami tersebut dan keluarganya, diberikan kesabaran dan ketabahan. Tidak terbayang beratnya beban pasangan muda yang kehilangan buah hatinya.

Di kampung kami, jika ada yang anak muda yang meninggal, para tetua menyebutnya 'mumbang (kelapa kecil) jatuh…kelapa (kelapa tua) jatuh; putik gugur…bunga pun gugur'. Semua akan kembali. Tua atau muda. Tanpa pengecualian.

Belum lagi, mimpi dan  keinginan kita yang begitu banyak. Semua keinginan itu kini, menguasai memori otak kita. Menghabiskan seluruh space yang ada di sel-sel otak. Ingin lulus sekolah, ingin dapat kerja, ingin menikah, ingin punya keturunan, ingin hidup berkecukupan, ingin berbakti pada orang tua di hari senja mereka, ingin punya tempat berteduh yang nyaman, ingin kendaraan yang nyaman, ingin berkontribusi pada negeri, ingin mampu menciptakan lapangan kerja bagi saudara sebangsa yang kurang beruntung, ingin naik haji, ingin....Begitu banyak. Akankah kita meninggal setelah semua ambisi terpenuhi? Masalahnya kematian datang tidak seperti penghargaan tertinggi atas achievement, yang hanya dimiliki para top manager yang sudah dipuncak karir dan belum tentu akan menunggu kita mencapai golongan IV d (bagi PNS).

*****

Saat ini, tentu tidak terbayangkan masa-masa terakhir kehidupan itu. Apakah akan didahului sakit? Atau langsung?

Pun, tidak pernah terpikir bahwa kita akan masuk list malaikat Izrail dalam waktu dekat. Toh masih sehat, toh bugar viz. ikut fitnes (berat badan seimbang), rajin check-up, toh kita ngga stress dan belum depresi. Masalahnya lagi, umur tidak berkaitan langsung dengan berat badan dan kondisi kesehatan.

*****

Alhamdulillah…hari ini Jumat dan kita masih hidup. Masih belum kiamat besar. Juga belum kiamat kecil. Semoga hari ini amalan baik kita bertambah.


Blog EntryGerbong Kereta BerikutnyaNov 21, '07 10:33 AM
for everyone

"Semakin kita tua..akan semakin banyak kita menertawakan, menyesali atau tersenyum kecut saat membayangkan gerbong waktu yang lewat dengan berlari"

"Semakin kita tua..semakin yakin kita bahwa tidak selamanya yang sulit, berat dan sakit itu buruk. Seringnya malah sulit, berat dan sakit itu lebih baik bagi kita. Seringnya, dari kesulitan kita lebih tahu diri, sadar dan prihatin yang ber-buah kecemerlangan. Seringnya, kesenangan, waktu senggang dan kemapanan hanya ber-buah kemerosotan"

"Semakin kita tua...semakin sering kita berlajar untuk bersabar..sadar bahwa bersabar itu akan berujung pada reward dari Ia Yang Memiliki hidup ini...tapi ternyata masih sulit untuk menjadi shabirin"

"Semakin tua kita..semakin kita butuh mendekat pada-Nya. Bahwa memperbaiki diri tidak harus menunggu pengalaman spiritual yang besar seperti selamat dari kecelakaan pesawat terbang"

"Semakin kita tua..semakin yakin kita pada isi dan fungsi, bukan pada wajah dan accessories"

"Semakin kita tua..semakin kita percaya bahwa hidup ini dinamis..bahwa manusia itu bisa berubah..bahwa sesuatu yang kita sanjung-sanjung di hari Kamis dapat berubah menjadi sesuatu yang kita jauhi pada hari Jum'at"

"Semakin kita tua...semakin besar pengharapan kita...agar masih sempat mengejar gerbong kereta berikutnya dan mengisinya hanya dengan kebaikan".

 


Category:Other
Taufiq Ismail

Matahari sembilan Dzulhijjah
Tinggal setengah hasta di Padang Arafah
Sempurna bulatnya, berwarna merah
Terdengarkah olehmu doa terakhir itu
Diucapkan menjelang matahari terbenam
Dibacakan oleh dua juta jamaah
Diratapkan oleh mayat-mayat ini
Dua juta mayat yangg tegak, yang duduk, yang tiarap
Apalah lagi beda antara doa dan ratap
Terasakah olehmu batas yang gawat
Antara detik kau mengenakan sendiri kain kafan
Sampai mikro-detik menating diri sendiri ke lubang kuburan
Dua juta mayat
Di depan dua juta kuburan
Dalam ribuan shaf yang amat teratur membelintang
Antara Arafah dan Muzdalifah
Aku membungkuk sedikit
Mengintip kuburku
Apa jenis tanahku
Apakah tanah khatulistiwa
Mungkinkah tanah sub-tropika
Di lingir kuburku, dua liter pasir Arafah
Mencucur ke dalamnya
Mengepulkan debu yang amat tipisnya
Kucoba kini merenungkan soal strategi kubur
Kucernakan masalah soal struktur kubur
Tiba-tiba kain ihramku meluncur
Turun dari pundak
Kulekatklan kembali dengan hati-hati
Kuintip kubur istriku
Sekilas nampak tepinya
Sekilas hilang bentuknya
Terbayang pula kedua kubur orang tuaku
Aku menghambur
Sebuah dinding tembus cahaya
Menghadangku
Kepala dan lututku membenturnya
Aku termangu
Wahai, di dinding itu tergurat sebuah maklumat:
Setiap mayat mengurus kuburnya sendiri-sendiri
Setiap mayat masuk ke kuburnya sendiri-sendiri
Wahai
Aku mencangkung, kaku dan canggung
Kupandang tanah kapling bahagianku
Dua kali satu meter persegi
Dua papan nisan, jelas mengeja namaku
Taufiq bin Abdul Gafar Ismail
Papannya surian, pinggirnya digergaji agak kasar
Belum sempat diamplas supaya halus sedikit
Tanah itu bergoyang
Nampak semacam ada gelombang
Bergaris-garis tipis macam ada air di pasir
Mungkinkah kuburku ada di dasar lautan?
Di dalam sana, sama gelapnya, berbeda sedikit lembabnya
Tak jelas berapa hasta dalamnya
Dingin, sempit dan pengap
Tanpa peta situasi ventilasi
Dan cacah jiwa sejuta serangga
Serta lalu-lintas reptilia bawah tanah
Yang akan mencengkeram seluruh lahiriahku
Dan menyelenggarakan total penghancuran
Dengan kawanan bakteri pembusukan

Di bawah kemah Arafah
Diterjang panas 50 derajat
Hamba letakkan tulang-belulang hamba
Sejajar sumbu bumi
Hamba terbaring
Ini sebuah simulasi
Inilah inventarisasi
Menjelang pengembalian semua barang pinjaman
Kepada Yang Maha Empunya
Semua benda yang sempat hamba akumulasi
Selama x tahun: barang-barang bergerak, barang-barang tak bergerak
Surat-surat dunia, dokumen-dokumen fana, bangunan, ideologi, istri,
anak, cucu, ilmu, puisi, budaya
Ternyata mereka
Bukan milik hamba
Mereka bergerak serentak
Tapi tepat di kubur ini
Mereka semua berhenti
Hamba kembalikan gumpalan protein
Air dan garam ini
Pada Dikau, Yang Maha Empunya
Mudah-mudahan masih utuh amanatMu ini, ya Razzaq
Empat ratus tulang-belulang, tiga ratus persendian utamanya
Empat ratus otot daging yang telah bekerja sempurna
Bergerak di bawah matahari, bulan, gemintang dan kegelapan
Seperangkat urat syaraf, susunan darah dan pencernaan
Yang cara kerjanya demikian fantastik
Sesudah x tahun lamanya kupinjam, adi-komputer
Hadiah Dikau ini ya Rabbi
Sepuluh juta neuron dalam otak yang Dikau pinjamkan ini
Dengan sinyal-sinyal pikiran sekencang 400 kilometer per jam

Wahai, betapa sayang Dikau pada tanah liat bergaram
Hamba, khalifahMu ini
Yang Dikau hadiahi cerdas dan ilmu
Tapi ini semuanya hanya pinjaman
Bagaimana cara hamba mengembalikannya
Hamba malu
Hamba malu...

Badanku gratis, zat asam di udara gratis
Air banyak, makanan tak sukar dalam ikhtiar
Dengan apa hamba kembalikan
Imbalan sifat Rahman dan Rahim Dikau
Berbuat baik di dunia?
Betapa rumit dan ruwetnya
Betapa sulit menyisihkan tempo
Menggesekkan kening 6 detik di atas bumi Dikau
Menyelinapkan tiap hari di antara 86.400 detik hadiah Dikau
Yang Dikau bagi rata, tiada tanpa
Sejak dari sahaya sampai pada raja
Dan bila habis bahagian hamba
Dan bila regangan akhir akan disentakkan
Dan bila hijab mulai disibakkan
Tak sempat lagi meninjau inventarisasi
Semua benda yang diakumulasi
Mudah-mudahan semuanya sudah rapi
Karena hanya Yaasin terdengar kini
Dan istriku yang mulai merah matanya
Dan cucu-cucuku yang duduk dan tegak termangu
Dan anakku yang membuka lipatan kafan

Ya Muqallibal Qulub, jangan palingkan hati hamba
Hamba kembali pada Dikau dalam keadaan tumpas
Fakir dan fana
Seluruh pinjaman hamba kembalikan
Mudah-mudahan semuanya utuh
Rasanya ikhtiar hamba memelihara titipanmu, sudah pada akhirnya
Kalaulah ada bahagian dari lempung bergaram ini susut
Di tulang kapur yang gugur
Di bawah kulit banyak lemak yang membiak
Dan inilah tumpukan bukit dosaku
Laporan makar dan rahasia syahwatku
Tak dapat aku sembunyikan dari pandanganmu, Ya Bashir
Akan kau apakan hamba,Ya Ghafur
Bukankah ubun-ubunku sudah sejak dulu
Dalam genggaman Dikau, Ya Malik
Dan bila tiba saat itu
Betapa sakit tak terperi tenggorokanku
Ketika pahit menyeluruh dalam mulut
Pada saat ranting-ranting berduri itu
Pelan-pelan dicabut
Lewat saluran pernapasan
Maka tataplah mataku
Aku tak melihatmu lagi
Karena yang kupandang kini
Adalah
Dunia
Sana

Blog EntryMengejar RaudhahJul 11, '06 6:31 PM
for everyone

Mengejar Raudhah

 

 

Subuh berjamaah baru saja berakhir. Entah siapa yang memulai, -- dalam waktu sekejap -- terbentuk kerumunan. Jamaah sholat merangsek maju menuju raudhah, satu sisi terdepan di Masjid Nabawi. Mereka berdesak-desakan untuk mendapatkan tempat di raudhah al-syarifah. Beragam wajah berbeda-bangsa itu berharap sempat untuk merasakan nikmatnya beribadah di raudhah. Satu dari taman-taman surga. Saat itu pula pandangan saya melayang-layang mencari celah untuk bergerak maju. Lelah mencari-cari, mata saya tertumbuk pada seorang lelaki tua yang terdesak di tengah raudhah. Sosok itu tengah khusuk berdoa. Tubuh ringkihnya berbalutkan Shalwar Kamis* yang amat lusuh. Pakaian yang sangat kontras dengan gamis putih, sorban dan blazer necis disekelilingnya. Tapi, jelas ia sangat beruntung, dengan perniagaan dunia yang terbatas itu, lelaki itu sempat menikmati nikmatnya bermunajat di raudhah. Berjejer kaum pria menatap penuh perhatian di pinggir raudhah, dengan harapan mendapat giliran untuk men-duduk-i karpet kuning keemasannya.

 

****

 

Raudah menyimpan rapi kenangan perjuangan Nabi-Nya. Mengejarnya, seperti napak tilas perjuangan baginda Rasul. Di tempat barokah itu, barisan sahabat nabi di tempa. Hamparan ketaqwaan senantiasa menghiasi raudhah. Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu.

Lamunan saya terhenti. Kembali pandangan saya mencermati kemungkinan mencari celah maju. Tapi nampaknya masing-masing hamba Allah di masjid itu masih ingin meneruskan munajat mereka. Termasuk lelaki sepuh ber-shalwar kamis1 itu. Mereka tetap belum bergeming. Meski antrian panjang di pinggiran raudhah terus menatap penuh harap, setengah memaksa untuk berganti tempat.

 

Terlintas di benak saya, keinginan menjadi lelaki kumal itu. Ada kesantunan kepada raudhah dan kecintaan kepada rasul junjungan, yang mungkin sudah luntur dari hati banyak muslim. Ketika topeng keshalihan hanya menjadi kendaraan dalam pergaulan. Ketika ‘kepentingan’ dan “kepentingan’ tetap menjadi berhala.

 

Sejak saat itu, image lelaki tua, berjenggot lebat, dan ber-shalwar kamis yang lusuh melekat dalam ingatan saya. Respek terhadap cara hidup dan ketulusannya. Maklum, sebagai orang awam -– yang lemah ilmu dan kurang amal ini-- seperti saya merasa sangat minder dengannya. Kesantunan rabbani miliknya patut diperlombakan. Melihat mereka saja seperti cukup sebagai charger. Serupa lecutan bagi diri untuk menjadi lebih baik.

 

****

 

Alhamdulillah. Musim semi lalu, di tempat yang berbeda –di  satu Masjid warga Maroko di Noord Brabant2- saya kembali betemu dengan sosok musafir ber-shalwar kamis.

 

“Assalamu’alaikum, apa kabar..?”, tegur seorang jamaah sholat ashar menyapa kedatangan saya.

Gembira. Itu pasti. Mendengar sapaan khas melayu itu saya langsung tersenyum lebar. Akhirnya ketemu dengan saudara serumpun. Lebih-lebih, Bapak itu berseragam sama. Shalwar Kamis!. Lengkap dengan impresi kesantunan yang sama. Tentu ini bukan lelaki yang saya yang jumpai di Raudhah. Tapi ciri-cirnya sama, ber-shalwar kamis dan berwajah Asia tengah.

“Saya Hasan”, begitu beliau memperkenalkan diri.

“Kami ini musafir, yang sedang ada usaha iman” (baca: berdakwah, mengajar pada kebenaran). Lega, ternyata ia bisa sedikit cakap Melayu.

 

Rupanya Pak Cik Hasan ini datang berombongan. Total jamaah mereka berjumlah sembilan orang. Dua diantaranya sudah sangat sepuh, diatas 70 tahun.

 

Lantas, detik-detik berjalan begitu khidmat. Setelah kering rohani saya seminggu ini, dipacu ambisi mengejar dunia yang ditularkan kolega sekantor, kini saatnya penyegaran. Taujih ini tentu barang langka.

 

“Kerisauan kami adalah kerisauan rasul”, kerisauan akan nasib ummat yang terlibas hiruk-pikuk hedonisme, paparnya menjelaskan tujuannya datang ke Eropa. Kerisauan akan ummah yang menjadi buih akibat lemahnya iman.

 

Lamat-lamat suara tenang beliau tenang masuk, merembes, mangairi kalbu yang suntuk.

 

Dua orangtua renta bershalwar khamis (yang saya temui di dua benua yang berbeda) seolah ingin membagi. Untuk mewarisi usaha Rasulullah menegakkan syiar. Semangat untuk menyebarkan salam, mengajak dan mengingatkan saudara seiman.

Kesungguhan, yang mengantarkan mereka, menuju raudhah.

 

 

******

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, katanya: Rasulullah SAW bersabda:

“Diantara rumah dan mimbarku adalah salah satu taman dari taman-taman surga dan mimbarku berada diatas telagaku"

 

1*Gamis khas Asia Selatan

2** provinsi di selatan Belanda

 

Mu. Abdur Razzaq, 17 Jamadi Ath-Thani, 1427 H.

 

Sumber photo: http:// islamicfinder.org dan http://hajj.al-islam.com/



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help