"Di negara saya, orang-orang terbaik memilih untuk tidak menjadi guru. Gaji guru sulit untuk diandalkan, sekalipun untuk hidup dengan standard yang sangat sederhana".
Wajah sahabat dari Asia Selatan itu tampak serius, menceritakan bobroknya pendidikan di negerinya.
"Kalaupun sudah (terpaksa) menjadi guru, maka seribu satu cara harus dipakai untuk bertahan hidup. Rendahnya kualitas kehidupan guru ini membuat banyak pemuda-pemudi terbaik enggan menjadi guru. Menjadi buruh di industri milik asing menjadi pilihan terbaik untuk hidup layak. Dalam jangka pendek, menjadi pekerja di perusahaan asing menyelesaikan masalah bangsa, dengan mengurangi jumlah pengangguran. Namun, jangka panjang bangsa kami terancam, nyaris tak ada karya cipta anak negeri. Saat ini kami sudah menjadi konsumen dan tak pernah mampu memproduksi karya bangsa sendiri. Ketergantungan akan pengetahuan import akan semakin menjadi-jadi dalam sepuluh tahun ke depan. Bangsa kami lumpuh. Terjajah kembali".
Saya seolah tak percaya mendengar keluh-kesah sahabat ini.
"Ini sih Indonesia banget", gumam saya dalam hati.
"Itu baru permukaan. Rendahnya kualitas guru ini mengait ke semua profesi. Guru yang tak bergairah akan menghasilkan anak-anak muda yang bodoh dan belajar sekedarnya. Kelak generasi ini menjadi dokter dan insinyur. Maka jadilah mereka dokter yang sering alpa dan insinyur yang banyak salah".
"Di negara saya...", ujarnya lagi
"Karena sibuk mencari tambahan, guru kami hanya mempelajari dan menghapalkan satu-dua buku pegangannya, lantas hafalannya itu lah yang ia bagikan ke murid-muridnya. Nyaris tak ada proses berpikir. Cukup dihafal tanpa pemahaman. Untungnya, kelemahan ini tertutupi oleh bimbingan belajar, sejenis 'warung' pendidikan. Kualitas pengajarannya mirip dnegan kelas negeri, cuma guru lebih bersemangat mengajar di bimbingan belajar karena pulang ke rumah dengan membawa lebih banyak pundi-pundi". Parahnya, Sistem pendidikan 'warung' ini merata, mulai dari Taman Kanak-kanak sampai Paska sarjana.
Yang bercerita itu adalah seorang sahabat, seorang guru di Pakistan. Tapi saya seolah mendengar masalah pendidikan di negeri sendiri.
Eindhoven, menjelang 20 Mei (Hari Kebangkitan Nasional)