oki's posts with tag: parenting

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag parenting
Blog EntryKebahagiaan Jilid BaruJun 28, '07 2:20 AM
for everyone

Anda pernah berbahagia? Dalam perjalanan hidup menuju terminal terakhir di alam dunya ini, tentu kita pernah berbahagia, sering berbahagia bahkan mungkin dikelilingi kebahagiaan, tanpa pernah kita sempat mengingat, menghitung apalagi menuliskannya (di blog).

Kebahagiaan mungkin pernah hadir dalam bentuk keberhasilan, lulus ujian, lulus sekolah, dapat kerja, mungkin juga berbentuk momentum hidup datang tanpa diundang; jatuh cinta (meski mungkin bisa 'jatuh' beneran). Kebahagiaan biasa hadir juga dengan melambungnya jiwa, menyanjung-nyanjung eksistensi diri; ketika kapal mulai merapat ke daratan dan akhirnya menemukan dermaga berlabuh.

Kebahagiaan mungkin pernah datang berupa embun spiritual yang sejuk lagi menyejukkan. Saat kita terharu akan begitu banyaknya nikmat yang diperoleh. Saat kita berdo'a dengan penuh harap bila terhimpit masalah kehidupan, "Tuhan, tiada tempat mengadu hamba selain kepada-Mu". Atau kala kaki sudah melangkah masuk ke Babussalam sambil terus mengucapkan kalimat Talbiyah, menunduk mencari celah maju, tiba-tiba Ka'bah sudah depan mata. Rasa bahagia yang tidak terlukiskan.

Sedemikian Maha Mengetahuinya Sang Penguasa alam, tak pernah kita tertimpa ber-ton-ton masalah tanpa solusi akhir yang indah. Sesaat sebelum putus asa datang, tanpa disangka limpahan karunia hadir dan memaksa kita untuk melupakan segala kepahitan. Kegetiran hidup pasti ada, karena hidup ini seperti roda pedati. Kadang diatas, kadang dibawah. Bisa manis, bisa pahit. Tanpa pernah menelan kopi pahit, kita tak akan pernah bisa menikmati sedapnya cappuccino berlapis coklat dan cream yang manis lagi lezat.

*****

Kabahagiaan, sulit ditampilkan dalam angka. Susah dibandingkan secara kuantitatif. Tapi yang jelas, kebahagiaan hadir dalam ragam dan nuansa yang unik dan selalu berbeda. Salah satu kebahagiaan yang baru-baru ini saya rasakan adalah indahnya melihat bayi yang kita dekap, tertidur. Iya tertidur. Tidur bagi orang dewasa tidak lagi misterius. Beda dengan tertidurnya bayi, yang melambangkan rasa aman yang dimilikinya dan yang paling penting; rasa percaya. Sesaat bayi anda tertidur, ada kebahagiaan, rasa percaya diri, syukur dan kepuasan yang beda, yang lebih bermakna. Memandang tubuh mungil 9 bulan itu tertidur pun mengasyikkan dan menghibur dan menularkan hawa kantuk yang mengajak anda untuk ikut tidur :)

Eropa utara, menjelang waktu subuh, puluhan meter dari Aurajoki *

Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur) [93:11].

 

*Aurajoki = sungai Aura yang membagi Finlandia selatan.


Darimanakah anda belajar bagaimana berkomunikasi dengan anak?

Dari percakapan antara Will Smith dan putranya di film The Pursuit of Happiness?

Dari komunikasi antara Don Alejandro dan Jaoquin pada sinema The Legend of Zorro?

Atau dari percakapan menghibur ayah-anak di film garapan Roberto Benigni; La Vita e bella?

Atau dari sumber lain?

****

Tertarik untuk mendalami ilmu komunikasi dengan anak menurut pakar psikologi anak dan keluarga?

Kebetulan, ibu-ibu Salamaa akan menyelenggarakan Workshop Komunikasi Sehat dengan Anak bersama Ibu Elly Risman, Psi. Untuk yang tertarik dapat masuk ke website berikut:

http://workshopsalamaa.wordpress.com/

*****

Iklan layanan masyarakat ini disampaikan oleh suami-suami yang sayang istri dan anak serta peduli dengan effective parenting dengan semangat membangun peradaban baru

A tribute to ibu-ibu yang sudah begadang di depan komputer, rapat OL dan kerja keras untuk terselenggaranya acara ini

Semoga lancar dan barokah ya workshopnya, Amiin.

 


Blog EntryBagaimana seharusnya anak bermain?Apr 29, '07 3:45 PM
for everyone

Permainan apa saja sih yang baik untuk anak-anak? (dibawah 5 tahun)

 

Hal ini mengganjal pikiran saya akhir-akhir ini, terus bertjokol di benak saya karena sejauh ini, saya sering bertemu anak-anak yang bermain dengan mainan, entah itu games dan apalah itu, yang IMHO, ndak mendidik, ndak ngislami dan (maaf-maaf saja) sekedar trik orang tua supaya anak sibuk sendiri, sedemikian rupa sehingga orang tuanya bisa bekerja dan beraktivitas.

 

Ini serius lho ya, saya amati, terutama bagi yang berdomisili di luar negeri, jenis permainan ini sangat terbatas. Outdoor jelas susah, cuma bisa pas summer, butuh terman dan tempat bermain (misalnya sport). Jenis permainan standard itu kan 'PC games'. Mulai dari anak dari tokoh masyrakat, alim ulama sampai anak orang biasa kayak kita-kita ini; permainannya berputar di media elektronik : games/videos di komputer dan TV.

 

Dari hasil nge-browse, saya menemukan penelitian Profesor R.K. Sawyer (WUStL). Katanya Prof. Sawyer, untuk anak dibawah 6 tahun. Permainannya harus konstruktif, dimana anak dibiarkan aktif berkreasi mengakumulasi pengetahuan selama bermain. Batasannya: aman dan sesuai umur. Point ini mudah dipahami.

 

Katanya lagi, permainan yang baik adalah permainan yang 'tidak saklek' atau bahasa dia, low realism. Maksudnya: Anak yang sudah pernah nonton Kura-kura Ninja akan mudah memainkan mainan berbentuk Leonardo atau Donnatello. Akibatnya anak menjadi tidak kreatif. Beda kalau mainannya belum pernah diliat diTV, dia akan lebih bebas untuk berimajinasi dan berimprovisasi.

Catatan menarik lain dari Sawyer adalah tentang kehadiran orang tua selama si anak bermain.  Katanya, bukanlah mainan itu yang memacu proses belajar anak, tapi interaksi anak dengan orang tua, selama memainkan mainan, menjadi bagian terpenting. Padahal, beberapa hari yang lalu, saya baru saja diberi tahu tips mendidik dari seorang pensiunan pendidik, katanya: "penuhi saja ruangannya dengan mainan, lalu biarkan ia main sendiri".

Hmmm, ini catatan yang penting dari Sawyer, kalau memang anak mesti selalu ditemani saat bermain.

Catatan lain yang menarik dari Sawyer adalah tentang video games. Jika dibandingkan menonton TV, video games masih lebih bisa dijadikan pilihan lah. Tapi bermain bersama dengan anak lainnya lebih diutamakan ketimbang main video games. Alasannya lagi-lagi; kreativitas yang terbatas yang ditawarkan video games. Tidak seperti main bersama yang penuh imaginasi dan banyak ruang untuk mengembangkan kreativitas.

Berhubung saya newbie (pemula) dalam dunia parenting. Segala masukan dari bapak-ibu yang sudah pengalaman akan sangat bermanfaat bagi kami

Sumber bacaan a.l.: Web Prof Keith Sawyer

Photo: Majid main bersama Mas Andra

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help