Permainan apa saja sih yang baik untuk anak-anak? (dibawah 5 tahun)
Hal ini mengganjal pikiran saya akhir-akhir ini, terus bertjokol di benak saya karena sejauh ini, saya sering bertemu anak-anak yang bermain dengan mainan, entah itu games dan apalah itu, yang IMHO, ndak mendidik, ndak ngislami dan (maaf-maaf saja) sekedar trik orang tua supaya anak sibuk sendiri, sedemikian rupa sehingga orang tuanya bisa bekerja dan beraktivitas.
Ini serius lho ya, saya amati, terutama bagi yang berdomisili di luar negeri, jenis permainan ini sangat terbatas. Outdoor jelas susah, cuma bisa pas summer, butuh terman dan tempat bermain (misalnya sport). Jenis permainan standard itu kan 'PC games'. Mulai dari anak dari tokoh masyrakat, alim ulama sampai anak orang biasa kayak kita-kita ini; permainannya berputar di media elektronik : games/videos di komputer dan TV.
Dari hasil nge-browse, saya menemukan penelitian Profesor R.K. Sawyer (WUStL). Katanya Prof. Sawyer, untuk anak dibawah 6 tahun. Permainannya harus konstruktif, dimana anak dibiarkan aktif berkreasi mengakumulasi pengetahuan selama bermain. Batasannya: aman dan sesuai umur. Point ini mudah dipahami.
Katanya lagi, permainan yang baik adalah permainan yang 'tidak saklek' atau bahasa dia, low realism. Maksudnya: Anak yang sudah pernah nonton Kura-kura Ninja akan mudah memainkan mainan berbentuk Leonardo atau Donnatello. Akibatnya anak menjadi tidak kreatif. Beda kalau mainannya belum pernah diliat diTV, dia akan lebih bebas untuk berimajinasi dan berimprovisasi.
Catatan menarik lain dari Sawyer adalah tentang kehadiran orang tua selama si anak bermain. Katanya, bukanlah mainan itu yang memacu proses belajar anak, tapi interaksi anak dengan orang tua, selama memainkan mainan, menjadi bagian terpenting. Padahal, beberapa hari yang lalu, saya baru saja diberi tahu tips mendidik dari seorang pensiunan pendidik, katanya: "penuhi saja ruangannya dengan mainan, lalu biarkan ia main sendiri".
Hmmm, ini catatan yang penting dari Sawyer, kalau memang anak mesti selalu ditemani saat bermain.
Catatan lain yang menarik dari Sawyer adalah tentang video games. Jika dibandingkan menonton TV, video games masih lebih bisa dijadikan pilihan lah. Tapi bermain bersama dengan anak lainnya lebih diutamakan ketimbang main video games. Alasannya lagi-lagi; kreativitas yang terbatas yang ditawarkan video games. Tidak seperti main bersama yang penuh imaginasi dan banyak ruang untuk mengembangkan kreativitas.
Berhubung saya newbie (pemula) dalam dunia parenting. Segala masukan dari bapak-ibu yang sudah pengalaman akan sangat bermanfaat bagi kami 
Sumber bacaan a.l.: Web Prof Keith Sawyer
Photo: Majid main bersama Mas Andra