Masih segar dalam ingatan saya, sulitnya memulai sesuatu yang baru. Pekerjaan baru, posisi baru, topik atau materi baru, sesuatu yang dulu asing, yang sebelumnya bahkan tak pernah terpikir.
Proses belajar biasanya periode berat. Belajar dan berlatih selalu melelahkan. Terbayangkan bapak-bapak tentara yang harus berlatih fisik setiap pagi, teringat atlet olahragawan yang kesehariannya cuma dua: berlatih (95%) atau bertanding (5%), terbayang pelajar-mahasiswa yang berlatih mengerjakan ujian (untung soalnya sering mirip soal tahun lalu
) , dan terbayang sulitnya belajar alat baru; semisal mengendarai kendaraan/sepeda atau menyetir crane untuk mengangkut barang di lepas pantai (dari anjungan ke boat, dan sebaliknya).
Setelah periode berat, saat 'awal' latihan', saat awal belajar, akan ada periode dimana kita 'menikmati latihan' (tapi masih perlu berlatih). Kemudian insyaAllah akan menguasai/mahir. Periode selanjutnya adalah periode 'memetik hasil', dimana kita bisa menerapkan, mengamalkan, apa yang kita pernah latih, untuk kehidupan.
Beberapa pekan ini, Alhamdulillah, kami mengamati Majid Zikra mulai menikmati latihan pertamanya: menegakkan kepala. Setelah awal yang berat, ada saatnya ia menikmati saat latihan. Menikmati indahnya melihat tegak; bisa melihat Bunda-Ayahnya yang sedang berdiri.
Kenikmatan yang hadir, setelah periode sulit. "Fa inna ma’al ‘usri yusraa, Inna ma’al ‘usri yusraa". Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, Sesungguhnya bersama bersama kesulitan ada kemudahan [Al Insyirah: 5-6]
Keterangan Photo: Majid Zikra belajar menegakkan kepala dan belajar menggengam (mainan).

