oki's posts with tag: cinta
Istriku, marilah kita berdoa ... Tuhan bagi siapa saja Meskipun kita pengemis pinggiran jalan Doa kita pun pasti Dia dengarkan Bila kita pasrah diri, tawakkal Esok hari perjalanan kita Masih sangatlah panjang Mari tidurlah, lupakan sejenak Beban derita, lepaskan [Ebiet G. Ade, Nasehat pengemis untuk istrinya dan doa hari esok] Bersyukur, itu yang selalu terhujam di kepala ini, setiap mendengar senandung Ebiet di atas. Akhir-akhir ini, lagu ini semakin mudah saya hayati. Terutama saat memandangi anak dan istri yang sudah terlelap di puncak kegelapan malam. Keletihan sehari bekerja perlahan-lahan luruh, berganti syukur akan amanat keluarga ini. Kecintaan pada dunia teratur mundur. Berganti pengharapan atas keberkahan, semoga selalu menaungi sampan kehidupan kami. Selanjutnya, ingin rasanya saya meminta maaf pada anak dan istri, atas keterbatasan waktu saya untuk mereka. Ingin rasanya memberikan kesaksian..bahwa keluarga-lah yang terpenting, bukan pekerjaan, bukan karir, bukan..bukan... Ingin rasanya..selalu menghabiskan waktu bersama, saat detik demi detik berlalu. Bermain dengan sudut-sudut hati sambil menantikan cahaya purnama yang terpancar dari wajah mereka. Bersenda gurau, sambil berharap menemukan gigi baru yang mulai muncul di gusi si buyung. ***** Wahai Rabb yang menguasai alam ini. Titipkanlah kebahagiaan di hati anak dan istriku. 10082007, Selatan Finlandia
 Anda pernah berbahagia? Dalam perjalanan hidup menuju terminal terakhir di alam dunya ini, tentu kita pernah berbahagia, sering berbahagia bahkan mungkin dikelilingi kebahagiaan, tanpa pernah kita sempat mengingat, menghitung apalagi menuliskannya (di blog). Kebahagiaan mungkin pernah hadir dalam bentuk keberhasilan, lulus ujian, lulus sekolah, dapat kerja, mungkin juga berbentuk momentum hidup datang tanpa diundang; jatuh cinta (meski mungkin bisa 'jatuh' beneran). Kebahagiaan biasa hadir juga dengan melambungnya jiwa, menyanjung-nyanjung eksistensi diri; ketika kapal mulai merapat ke daratan dan akhirnya menemukan dermaga berlabuh. Kebahagiaan mungkin pernah datang berupa embun spiritual yang sejuk lagi menyejukkan. Saat kita terharu akan begitu banyaknya nikmat yang diperoleh. Saat kita berdo'a dengan penuh harap bila terhimpit masalah kehidupan, "Tuhan, tiada tempat mengadu hamba selain kepada-Mu". Atau kala kaki sudah melangkah masuk ke Babussalam sambil terus mengucapkan kalimat Talbiyah, menunduk mencari celah maju, tiba-tiba Ka'bah sudah depan mata. Rasa bahagia yang tidak terlukiskan. Sedemikian Maha Mengetahuinya Sang Penguasa alam, tak pernah kita tertimpa ber-ton-ton masalah tanpa solusi akhir yang indah. Sesaat sebelum putus asa datang, tanpa disangka limpahan karunia hadir dan memaksa kita untuk melupakan segala kepahitan. Kegetiran hidup pasti ada, karena hidup ini seperti roda pedati. Kadang diatas, kadang dibawah. Bisa manis, bisa pahit. Tanpa pernah menelan kopi pahit, kita tak akan pernah bisa menikmati sedapnya cappuccino berlapis coklat dan cream yang manis lagi lezat. ***** Kabahagiaan, sulit ditampilkan dalam angka. Susah dibandingkan secara kuantitatif. Tapi yang jelas, kebahagiaan hadir dalam ragam dan nuansa yang unik dan selalu berbeda. Salah satu kebahagiaan yang baru-baru ini saya rasakan adalah indahnya melihat bayi yang kita dekap, tertidur. Iya tertidur. Tidur bagi orang dewasa tidak lagi misterius. Beda dengan tertidurnya bayi, yang melambangkan rasa aman yang dimilikinya dan yang paling penting; rasa percaya. Sesaat bayi anda tertidur, ada kebahagiaan, rasa percaya diri, syukur dan kepuasan yang beda, yang lebih bermakna. Memandang tubuh mungil 9 bulan itu tertidur pun mengasyikkan dan menghibur dan menularkan hawa kantuk yang mengajak anda untuk ikut tidur :) Eropa utara, menjelang waktu subuh, puluhan meter dari Aurajoki * Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur) [93:11]. *Aurajoki = sungai Aura yang membagi Finlandia selatan.
Merawat Tanaman Cinta
Oleh Mu. Abdurrazzaq
Syahdan, suatu ketika Pemuda A sedang berdiskusi tentang masa depannya dengan Bapak B. Pemuda ‘A’ bertanya, “Pak, apakah anda pria romantis?”
Mendengar petanyaan yang tendensious ini, Bapak B cepat berkelit, “Oops!..pertanyaan apa ini. Apa nggak ada lagi pertanyaan yang lebih berbobot?”
*****
Romantiskah anda? Agaknya, ini pertanyaan yang cuma bisa dijawab oleh orang-orang terdekat anda. Romantis biasanya dihubungkan dengan kemampuan dan kemauan menumbuhkan dan merawat cinta. Definisi cinta disini sangatlah luas. Setidaknya dalam surat At Taubah ayat 24, disebutkan berbagai macam jenis cinta. Tidak melulu terhadap lawan jenis tapi juga terhadap orang tua, kerabat dan handai taulan. Memelihara cinta dengan kerabat adalah sebuah kebutuhan primer dalam bermasyarakat. Sudah kebal rasanya telinga ini dengan segala perseteruan dan perdebatan yang lahir akibat cinta yang tak terawat.
Cinta ditanam dan dirawat dengan berbagai cara. Mengungkapkan cinta adalah salah satunya. Banyak langkah yang bisa di bangun dalam merawat dan memelihara cinta kepada sesama insan. Ekspresi katanya bisa menentukan segalanya.
Rasulullah saw. bersabda: “Jika seseorang dari kalian mencintai saudaranya, hendaknya ia memberitahukannya bahwa ia mencintainya” (HR Ahmad, Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi). Dengan kata lain, kita diharapkan melatih kemampuan verbal.
Memupuk benih cinta dapat dilakukan dengan menabur pupuk yang menyehatkan. Diibaratkan pada insan manusia, pupuk ini adalah pemberian sesuatu yang menyenangkan, biasa disebut sebagai hadiah. Pesan; “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai”, tepat adanya. Memberi hadiah juga akan meluluhkan hati dan membuat hubungan menjadi semakin rekat. Hadiah yang pas hanya akan diberikan oleh orang yang sangat mengenal anda. Hadiah intinya refleksi dari sebuah pemberian perhatian. Tapi jangan sampai belaku kebalikannya. Banyak juga yang salah kaprah, hingga kebablasan : perhatian di hitung perhatian yang dihitung dari materi; dari telepon, surat, pulsa, telepon dan sms , liter-an bensin.
Saling mengunjungi juga akan mempererat keakraban. Mempertahankan cinta juga dapat dilakukan dengan saling berkunjung.
Dari Abu hurairah ra.; ia bertutur. “ Rasulullah berkata kepadaku: “ Wahai Abu Hurairah, sewaktu-waktu berkunjunglah, niscaya bertambahlah rasa cinta.” (HR Thabrani).
Cinta yang berbanding lurus dengan frekuensi pertemuan, yang sungguh akan mempengaruhi ikatan persaudaraan. Tak jarang perseteruan di sebuah komunitas dipicu karena jarang bertemu. Sepeti kata pepatah jawa ”Witing trisno jalaran soko kulino”. cinta bersemi karena sering bertemu. Pertemuan akan memfasilitasi perkenalan (ta’aruf) untuk selanjutnya saling memahami (tafahum). Buah dari perkenalan dan pemahaman tadi adalah kesediaan untuk mencintai.
Dalam membangun cinta terhadap sesama insan, santun dan berlemah lembut juga memegang peranan penting. Dalam Al Maidah ayat 54, Allah menyebutkan berlemah lembut terhadap orang mukmin sebagai salah satu ciri manusia yang dicintai Allah dan mereka mencintai-Nya. Semoga kita tetap mampu berlemah lembut kepada sesama, meski berbeda paham, aliran beda pengajian ataupun beda partai dan golongan. Memanggil dengan panggilan yang baik, adalah satu dari buah sikap lemah lembut. Begitu banyak panggilan buruk yang kita ciptakan untuk sahabat kita mulai dari panci, baskom, gilingan, dst. Hentikan panggilan buruk itu, ganti dengan panggilan yang ia cintai.
Tataran masyarakat mungkin terlalu luas, buat kita untuk melatih kemampuan merawat cinta. Keluarga, mungkin level yg lebih pantas untuk memulainya. Merawat cinta harus dimulai dari keluarga. Bahkan, bagi anda yang sudah lama berkeluarga, tidak ada kata istilah terlalu tua untuk merawat ikatan rasa indah itu, untuk menjadi romantis. Siapkan hadiah kejutan untuk keluarga di rumah. Singkirkan rasa enggan itu dan ungkapkan cinta sekarang juga!
*****
“Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada Mu, telah berjumpa dalam taat pada Mu, Kokohkanlah, ya Allah, ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahaya Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada Mu. Nyalakanlah hati kami dengan mengenal Mu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”
Berapa kali sih kita harus mengatakan cinta (pada pasangan) dalam sehari?
"Aku sayang.." (di-edit)
"Kangen.." (di-edit)
Yang jelas, ungkapan cinta-sayang sangat bergantung pada kekuatan ekspresi. Kemampuan verbal. Mengutarakannya menjadi keharusan. Seperti pesan seorang bapak, sahabat lama, "ucapkanlah perasaan sayang, sebelum ia (pasangan) letih mencari tandanya, sebelum salah paham itu tiba".
*****
Masalahnya, urusan ungkap-mengungkap isi hati, bukan hal mudah. Ungkapan ini bergantung pada kemampuan verbal, kemampuan mimik wajah dan lisan berekspresi. Akibatnya, kemampuan ini, mungkin bukan milik semua orang. Karena banyak juga pribadi yang pemalu. Tak terhingga jumlah pendiam di bumi ini. Lantas bagaimana mengungkapkan rasa itu? Masih dari seorang bapak-bapak, "terkadang peluh, lelah dan keringat dapat menyampaikan sendiri pesan-pesan berbunga itu."
Karenanya, lelah dan letih bekerja mencari sesuap nafkah bagi keluarga menjadi bahasa yang universal, dalam mengungkapkan persaaan-perasaan diatas.
------
Sesungguhnya seorang muslim, jika memberikan nafkah kepada keluarganya dan ia mengharap pahala darinya, maka nafkahnya itu menjadi sedekah baginya [HR Muslim]
Dulu, saya kurang menghayati ucapan ini.
Ini ucapan basa-basi di hari Jumat sore, menjelang akhir pekan. Kira-kira artinya “selamat menikmati akhir pekan”. Benar-benar tidak bisa dipahami. Menikmati akhir pekan? Apanya yang dinikmati?
Bagi sebagian besar dari kami, antara ‘akhir pekan’ dan ‘hari biasa’ nyaris tanpa batas. Biasanya akhir pekan bisa berubah menjadi hari kerja. Pernah tetap datang ngantor, bahkan menjelang deadline (report atau conference) bisa full-time ngantor...dan bekerja saat weekend.
Ah becanda kamu!, begitu gumam saya dalam hati, setiap kali kolega mengucapkan nya di Jumat sore.
Tapi memang, waktu merubah segalanya. Kini, sejak berkeluarga, Alhamdulillah sekarang saya baru (mulai) dapat menghayati salam ini.
Weekend, akhir pekan adalah waktu keluarga.
Akhir pekan adalah waktu menemani istri belanja. Waktu membawa keluarga silaturahmi ke kerabat.
Waktu membersihkan dapur. Kata orang bijak, perempuan menghabiskan 1/3 umurnya di dapur.
Maka tugas suami-lah memastikan bahwa dapur tetap nyaman dan bersih bagi sang istri.
Akhir pekan adalah waktu keluarga.
Waktu melepas penat, membuang peluh dan menceriakan keluarga. Terutama bagi ibu, perempuan yang mendedikasikan dirinya penuh sebagai manager rumah tangga. Banyak pasangan yang setuju bahwa rumah tangga tidak bisa dikelola dengan ‘tenaga sisa’. Konsekuensinya, ibu, sebagai manager rumah tangga harus tinggal di rumah mengurus anak, rumah... dan semua keruwetan tumplek-dumpek di dalamnya.
Oleh karena itu tugas suami adalah menceriakan keluarga. Entah dengan rihlah menikmati keindahan alam atau dengan rekreasi sekedarnya. Tentunya, yang sederhana. Rrekreasi tidak mesti naik Thalys terus berlibur ke Paris setiap pekan.
Menelpon mertua pun bisa terhitung rekreasi.
Dengan agenda membersihkan rumah dan tanggung jawab menceriakan keluarga, lantas apakah masih tersisa waktu untuk bekerja? Kadang suka diperdebatkan bahwa pekerja sukses bukanlah family man. Demikian juga sebaliknya.
“Itulah tantangannya”, demikian seorang bapak memotivasi.
*Prettig weekend = selamat menikmati berakhir pekan
**Hetzelfde / Jij ook = sama-sama/untuk kamu juga ya
| |