Category:Other
Taufiq Ismail

Matahari sembilan Dzulhijjah
Tinggal setengah hasta di Padang Arafah
Sempurna bulatnya, berwarna merah
Terdengarkah olehmu doa terakhir itu
Diucapkan menjelang matahari terbenam
Dibacakan oleh dua juta jamaah
Diratapkan oleh mayat-mayat ini
Dua juta mayat yangg tegak, yang duduk, yang tiarap
Apalah lagi beda antara doa dan ratap
Terasakah olehmu batas yang gawat
Antara detik kau mengenakan sendiri kain kafan
Sampai mikro-detik menating diri sendiri ke lubang kuburan
Dua juta mayat
Di depan dua juta kuburan
Dalam ribuan shaf yang amat teratur membelintang
Antara Arafah dan Muzdalifah
Aku membungkuk sedikit
Mengintip kuburku
Apa jenis tanahku
Apakah tanah khatulistiwa
Mungkinkah tanah sub-tropika
Di lingir kuburku, dua liter pasir Arafah
Mencucur ke dalamnya
Mengepulkan debu yang amat tipisnya
Kucoba kini merenungkan soal strategi kubur
Kucernakan masalah soal struktur kubur
Tiba-tiba kain ihramku meluncur
Turun dari pundak
Kulekatklan kembali dengan hati-hati
Kuintip kubur istriku
Sekilas nampak tepinya
Sekilas hilang bentuknya
Terbayang pula kedua kubur orang tuaku
Aku menghambur
Sebuah dinding tembus cahaya
Menghadangku
Kepala dan lututku membenturnya
Aku termangu
Wahai, di dinding itu tergurat sebuah maklumat:
Setiap mayat mengurus kuburnya sendiri-sendiri
Setiap mayat masuk ke kuburnya sendiri-sendiri
Wahai
Aku mencangkung, kaku dan canggung
Kupandang tanah kapling bahagianku
Dua kali satu meter persegi
Dua papan nisan, jelas mengeja namaku
Taufiq bin Abdul Gafar Ismail
Papannya surian, pinggirnya digergaji agak kasar
Belum sempat diamplas supaya halus sedikit
Tanah itu bergoyang
Nampak semacam ada gelombang
Bergaris-garis tipis macam ada air di pasir
Mungkinkah kuburku ada di dasar lautan?
Di dalam sana, sama gelapnya, berbeda sedikit lembabnya
Tak jelas berapa hasta dalamnya
Dingin, sempit dan pengap
Tanpa peta situasi ventilasi
Dan cacah jiwa sejuta serangga
Serta lalu-lintas reptilia bawah tanah
Yang akan mencengkeram seluruh lahiriahku
Dan menyelenggarakan total penghancuran
Dengan kawanan bakteri pembusukan

Di bawah kemah Arafah
Diterjang panas 50 derajat
Hamba letakkan tulang-belulang hamba
Sejajar sumbu bumi
Hamba terbaring
Ini sebuah simulasi
Inilah inventarisasi
Menjelang pengembalian semua barang pinjaman
Kepada Yang Maha Empunya
Semua benda yang sempat hamba akumulasi
Selama x tahun: barang-barang bergerak, barang-barang tak bergerak
Surat-surat dunia, dokumen-dokumen fana, bangunan, ideologi, istri,
anak, cucu, ilmu, puisi, budaya
Ternyata mereka
Bukan milik hamba
Mereka bergerak serentak
Tapi tepat di kubur ini
Mereka semua berhenti
Hamba kembalikan gumpalan protein
Air dan garam ini
Pada Dikau, Yang Maha Empunya
Mudah-mudahan masih utuh amanatMu ini, ya Razzaq
Empat ratus tulang-belulang, tiga ratus persendian utamanya
Empat ratus otot daging yang telah bekerja sempurna
Bergerak di bawah matahari, bulan, gemintang dan kegelapan
Seperangkat urat syaraf, susunan darah dan pencernaan
Yang cara kerjanya demikian fantastik
Sesudah x tahun lamanya kupinjam, adi-komputer
Hadiah Dikau ini ya Rabbi
Sepuluh juta neuron dalam otak yang Dikau pinjamkan ini
Dengan sinyal-sinyal pikiran sekencang 400 kilometer per jam

Wahai, betapa sayang Dikau pada tanah liat bergaram
Hamba, khalifahMu ini
Yang Dikau hadiahi cerdas dan ilmu
Tapi ini semuanya hanya pinjaman
Bagaimana cara hamba mengembalikannya
Hamba malu
Hamba malu...

Badanku gratis, zat asam di udara gratis
Air banyak, makanan tak sukar dalam ikhtiar
Dengan apa hamba kembalikan
Imbalan sifat Rahman dan Rahim Dikau
Berbuat baik di dunia?
Betapa rumit dan ruwetnya
Betapa sulit menyisihkan tempo
Menggesekkan kening 6 detik di atas bumi Dikau
Menyelinapkan tiap hari di antara 86.400 detik hadiah Dikau
Yang Dikau bagi rata, tiada tanpa
Sejak dari sahaya sampai pada raja
Dan bila habis bahagian hamba
Dan bila regangan akhir akan disentakkan
Dan bila hijab mulai disibakkan
Tak sempat lagi meninjau inventarisasi
Semua benda yang diakumulasi
Mudah-mudahan semuanya sudah rapi
Karena hanya Yaasin terdengar kini
Dan istriku yang mulai merah matanya
Dan cucu-cucuku yang duduk dan tegak termangu
Dan anakku yang membuka lipatan kafan

Ya Muqallibal Qulub, jangan palingkan hati hamba
Hamba kembali pada Dikau dalam keadaan tumpas
Fakir dan fana
Seluruh pinjaman hamba kembalikan
Mudah-mudahan semuanya utuh
Rasanya ikhtiar hamba memelihara titipanmu, sudah pada akhirnya
Kalaulah ada bahagian dari lempung bergaram ini susut
Di tulang kapur yang gugur
Di bawah kulit banyak lemak yang membiak
Dan inilah tumpukan bukit dosaku
Laporan makar dan rahasia syahwatku
Tak dapat aku sembunyikan dari pandanganmu, Ya Bashir
Akan kau apakan hamba,Ya Ghafur
Bukankah ubun-ubunku sudah sejak dulu
Dalam genggaman Dikau, Ya Malik
Dan bila tiba saat itu
Betapa sakit tak terperi tenggorokanku
Ketika pahit menyeluruh dalam mulut
Pada saat ranting-ranting berduri itu
Pelan-pelan dicabut
Lewat saluran pernapasan
Maka tataplah mataku
Aku tak melihatmu lagi
Karena yang kupandang kini
Adalah
Dunia
Sana

Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help